Matematika Dalam Kala Sunda

Pikiran Rakyat, 2 Februari 2006

Foto:Blue Moon, http://www.icstars.com

Oleh ROZA RAHMADJASA MINTAREDJA

KANG Sobirin dalam ”PR” (9/1/2006) dengan penuh keyakinan atas hasil pengamatannya menyatakan bahwa Kala Sunda dapat menjadi indikator untuk mendeteksi gejala alam/lingkungan.
Padahal mungkin ribuan orang bahkan jutaan orang, tanpa ribut-ribut menjadi pemakai penuh Kala Sunda. Tetapi setelah 5 abad baru satu orang saja (Kang Sobirin, Anggota Pakar Lingkungan Hidup DPKLTS) yang berani dengan tegas memproklamasikan fenomena Kala Sunda sebagai milestones, tonggak pertanda zaman dengan segala perhitungan futuristik mengenai peradaban dunia kelak. Mengapa?

Apakah banyak yang mengetahui dan menyadari bahwa, indung poe aboge (Sunda Mataram taun alip rebo wage) telah berubah menjadi alapon (Sunda Mataram taun alip salasa pon). Dalam Kala Sunda, alapon adalah ketukal (taun kebo tumpek (Saptu) Kaliwon) .
Itulah sebabnya orang Sunda yang masih memakai indung poe aboge yang oleh Abah Ali Sastramidjaya diberi istilah “Sunda Mataram” hanya sebagai user atau pemakai belaka tanpa mengetahui asal usul dan dasar perhitungannya menjadi “salah kaprah” tanpa ada “perubahan”.

Di sini kita perlu mengetahui bahwasanya setiap 1 tunggul taun, (15 windu = 120 tahun) terjadi perubahan indung poe (Jw. khuruf). Tunggul taun ke-3 dina (Sunda Mataram) indung poena adalah aboge (taun Alip Rebo Wage) berlaku dari tahun 1866 s.d. 1982 masehi, hampir bersamaan dengan tunggul taun ke-16 di Kala Sunda yang indung poena adalah keradnis (taun Kebo Radite/Minggu Manis) berlaku dari tahun 1869 s.d. 1985 masehi.

Dengan demikian tunggul taun ke-17 dalam hitungan Kala Sunda indung poena ketukal (taun Kebo Tumpek Sabtu/Kaliwon) berlaku dari tahun 1985 s.d. 2102 Masehi. Jadi pada taun 1942 caka (2006 Masehi), masuk dalam tunggul taun ke-17 dengan indung poena adalah Tumpek (Saptu) Kaliwon. Nama taun pada “Sunda Mataram” berbeda dengan nama taun pada Kala Sunda.
Pada “Sunda Mataram” taun ke-1. Alip 2. He 3. Jimawal Dst. Pada Kala Sunda taun ke-1. Kebo 2. Monyet 3. Hurang dst, yang menggunakan istilah nama-nama alam. Begitu juga dalam hal penentuan poe pasar (panca wara). Kalau misalnya di Sunda Mataram jatuh pada Jumat Kaliwon di Kala Sunda jatuhnya di Jumat Pahing dst. Penulis tidak menvonis atau menyalahkan “orang Sunda” yang masih memakai indung poe aboge tersebut, karena “ketidak tahuan” terhadap pergeseran tersebut. Kala Sunda telah menghilang kurang lebih 500 tahun yang lalu. Artinya ketidaktahuan itu amatlah wajar.

Penting sekali diketahui jika para pengguna perhitungan yang masih memakai hitungan berdasarkan indung poe aboge harus mengubah patokan indung poena, kalau tidak mau mengalami kegagalan/meleset dalam perhitungannya.
Perhitungan astronomis/matematik Kala Sunda,tidak pernah ada yang meng-“openi-nya kecuali Abah Ali Sastramidjaya. Bidang yang digeluti Abah Ali adalah matematika, bukan sejarah, bukan seni, bukan sastra, bukan pula antropologi. Bahkan bukan geologi, apalagi agama. Beliau baru dapat berkomunikasi dengan para astronom yang mengeluti masalah pertanggalan atau perkalenderan. Baru itu gayung bersambut! Sekali lagi ditegaskan, harus yang berbasis ilmu matematika dan astronomis.

Terjadinya gerhana matahari, gerhana bulan dan lain-lainnya, yang akan datang ataupun yang lalu bukan berbasis wangsit atau ramalan para dukun. Itu semua berbasis matematika-astronomis. Itu semua dengan cara perhitungan.
Teori Big Bang (ledakan akbar) kini diterima oleh para ilmuwan setelah mengalami perdebatan sengit selama berpuluh-puluh tahun. Einstein dan para pakar astronomi lainnya dengan tegas menyatakan, bila proses perhitungan meleset 0,0001 cm saja, akan mengakibatkan runtuhnya alam semesta/jagat raya ini.

Ternyata proses mengembangnya alam semesta itu merupakan keteraturan yang pasti, bukan hanya cerita alam mengembang. Itu semua dapat dihitung. Hanya zat yang mahadahsyat yang mampu mengatur jagat raya ini. Kalau boleh saya sebut sang “manajer jagat raya” itu Sang Mahatunggal, tidak mungkin dua apalagi tiga. Dalam istilah agama, “Tuhan itu adalah Maha Esa”, tidak dapat disamakan dengan apa saja yang ada di alam semesta ini, apalagi rasionalismenya otak manusia yang terbatas. Tuhan Yang Maha Esa itu adalah Tuhan kita semua, apa pun nama dan sebutannya. Bahwa zat itu, adalah itu-itu juga, Mahamutlak. Di sainer, pembuat, pengatur alam jagat raya ini. “What is a name?”

Kembali kepada akar pembicaraan, penulis mengajak para pakar matematik, astronomi/kalender sedunia, dapatkah engkau memahami hasil perhitungan/guaran Abah Ali Sastramidjaya ini? Mari kita adakan pertemuan dibidang ini! Saya “talek” bah Ali, sanggupkah? Dengan santai beliau menjawab “Why not?” Saya tidak perlu menanyakan darimana sumbernya, yang penting rumus itu ada! Dapat dipertanggungjawabkan oleh Abah Ali sendiri, karena ini adalah rumus matematik!

Het bestaan van een kalender bij een volk bewjst een zekeregraad van beschaving en de nauwkeurigheid van die kalender is een maatstaf voor intellectuele ontwikeling. (Winkler Prins) Encyclopedia. Terjemahan bebas: Keberadaan Kalender pada suatu masyarakat,menjadi satu bukti untuk mengukur derajat peradabannya, sedangkan tingkat ketelitian kalendernya menunjukkan ukuran kecerdasan/intelektualnya.
Kita amati bagaimana Bah Ali Sastramihardja mengukur tingkat ketelitian kalender yang ada di dunia. Diambil sampel “kalender matahari (surya) 2 buah yaitu Gregorian dan Sunda (Saka) dan “kalender bulan” (Candra) 3 buah yaitu Hijriah Jawa dan Sunda (Caka).

Pengukuran tingkat ketelitian Kala Sunda dengan membandingkan rumus Kala Sunda dan rumus Astronomi.
Ringkasnya tingkat ketelitian 5 kalender tersebut sebagai berikut:

A. Kalender Matahari
1. Gregorian = 3.334 tahun. 2. (saka) Sunda = 80.000 tahun yang terkoreksi oleh para astronom tahun 2000 menjadi 460.830 tahun! Artinya tingkat ketelitian (akurasi) Saka Kala Sunda adalah 138 kali lebih teliti (akurat) dari Gregorian (kalender Masehi yang dipakai sekarang, dan disahkan oleh PBB menjadi kalender internasional pada tahun 1956).
Bukan main! Tetapi wahai orang Sunda kiwari. Janganlah engkau berbangga hati dulu. Matematika Sunda ini tidak pernah dibahas dalam forum resmi dengan para ahli pananggalan (kalender) baik lokal, nasional, bahkan internasional. Mengapa?

B. Kalender Bulan.
1. Hijriah = (2.420 tahun?), jika memakai rumus prahijrah . 2. Jawa = 2.420 tahun dalam arti hitungan Sunda Mataram. 3.Sunda = Dengan memakai Dewa Indung Poe (setiap 20 tunggul taun akhir dikabisatkan) akibatnya abadi, tidak berubah sepanjang masa. Artinya tingkat ketelitian (akurasi) Caka sangat tinggi, sesuai dengan peredaran bulan dari dahulu hingga akhir masa.
Sering Abah Ali Sastramidjaya berucap “Jika mengukur sesuatu, mau pakai penggaris yang lurus atau penggaris yang bengkok?”
Penulis dramatisasi kembali pertanyaan kepada Abah Ali, dapatkah Abah Ali disidangkan? Bangsa Batak, Kalimantan, Sulawesi, Bali, India, Jawa, bangsa Eropa, Arab, punya kalendernya sendiri .

Orang Sunda berhak untuk mempunyai kalendernya sendiri, Kala Sunda!
Kami, tim Kala Sunda, sedang mempersiapkan Kala Sunda taun 1942 Caka Sunda (2006) atas arahan dan bimbingan langsung dari Abah Ali Sastramidjaya sendiri, atas dasar “sakadada sakaduga” tim kami dengan bantuan masyarakat dan pemerintah provinsi Jawa Barat tentunya. Cag!
Penulis, arsitek/konsultan perencanaan.

Posted by sobirinsobirin@gmail.com at 5:45 AM

Sumber: http://sobirin-xyz.blogspot.com/2007/05/matematika-dalam-kala-sunda.html

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s